<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Goresan Singkat &#187; Ibrah</title>
	<atom:link href="http://coysclub.wordpress.com/category/ibrah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://coysclub.wordpress.com</link>
	<description>Berbagi cerita di dunia maya...~</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Nov 2009 01:21:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='coysclub.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/17a3bad8731cde67e71e7cafae47c4d3?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Goresan Singkat &#187; Ibrah</title>
		<link>http://coysclub.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://coysclub.wordpress.com/osd.xml" title="Goresan Singkat" />
		<item>
		<title>Menjadi Ibu</title>
		<link>http://coysclub.wordpress.com/2009/11/19/menjadi-ibu/</link>
		<comments>http://coysclub.wordpress.com/2009/11/19/menjadi-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 01:21:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifqi Nz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coysclub.wordpress.com/2009/11/19/menjadi-ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Cita-cita : Menjadi Ibu Rumah Tangga. Kening saya berkerut. Saya amati lagi mahasiswa baru adik kelas saya itu. Ini bukan pernyataan akhwat yang secara bergurau diberi julukan WO, walimah oriented. Bahkan dari akhwat sekalipun, saya belum pernah mereka yang secara terang-terangan mencantumkan ibu rumah tangga sebagai cita-cita. Ibu rumah tangga? Padahal junior yang berdiri di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coysclub.wordpress.com&blog=1005162&post=276&subd=coysclub&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Cita-cita : Menjadi Ibu Rumah Tangga. Kening saya berkerut. Saya amati lagi mahasiswa baru adik kelas saya itu. Ini bukan pernyataan akhwat yang secara bergurau diberi julukan WO, <em>walimah oriented</em>. Bahkan dari akhwat sekalipun, saya belum pernah mereka yang secara terang-terangan mencantumkan ibu rumah tangga sebagai cita-cita. Ibu rumah tangga? Padahal junior yang berdiri di hadapan saya dua tahun lalu adalah remaja delapan belas tahun dengan penampilan genereasi MTV.</p>
<p>“Karena menjadi ibu itu nggak mudah” itu inti jawabannya ketika saya bertanya kenapa? Saya kagum dengan keberaniannya mencantumkan menjadi ibu sebagai cita-cita. Mungkin, oleh feminis ia akan dikritik sebagai perempuan yang terjebak struktur patriarki dengan aturan baku: ranah domestik adalah milik perempuan, publik milik laki-laki. Atau sebagai perempuan yang terjebak dalam mitos dewi tolol dalam sangkar emas. Terbuai oleh romantisasi indahnya dunia domestik sebagai manipulasi agar domain publik tetap menjadi wilayah laki-laki.</p>
<p>Namun saya pikir, ketika seseorang menetapkan pilihannya secara sadar, sepenuhnya mendedikasikan diri pada keluarga atau berkontribusi dalam kehidupan publik, maka ia manusia merdeka. Ketika ia menempatkan <em>menjadi ibu</em> sebagai cita-cita, saya pikir hal itu berangkat dari pemahaman, betapa menjadi ibu tidaklah , saya pikir hal itu berangkat dari pemahaman, betapa menjadi ibu tidaklah <em>taken for granted</em> karena ia dilahirkan sebagai perempuan. Melaikan sebuah profesi yang harus dipandang serius.</p>
<p>Karena menjadi ibu -tentu juga ayah- tidak mudah. Saya yakin itu, walaupun belum mengalaminya. Menempatkan <em>menjadi ibu</em> sebagai cita-cita, sama halnya dengan keinginan kita untuk selalu mencapai kesempurnaan sebagai hamba Allah. Dan proses <em>menjadi ibu</em> -juga menjadi hamba Allah yang baik- adalah proses <em>being, </em>bukan <em>becoming</em>. <em>Being</em>, merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Ia tidak sama dengan cita-cita anak-anak kita untuk menjadi dokter, misalnya. Karena setelah kita dewasa, kita dapati bahwa hal itu tidak lagi cukup untuk kita. Setelah jadi dokter lalu apa?</p>
<p>Karena menjadi ibu tidak mudah. Saya pikir jawaban itu banyak benarnya. Sebagai anak, ibu adalah idola saya. Bukan karena ia selalu sempurna sebagai seorang ibu. Toh ia tidak selalu dalam kondisi sempurna untuk bercerita, mendengarkan ataupun mengerti anak-anaknya. Sebagai anak, saya menyaksikan pergulatan dan perubahan dalam dirinya, untuk menjadi lebih matang dari kemarin. Ia pernah tidak sabar suatu kali, tidak mengerti ataupun marah. Ada saatnya pula saya berpikir, kami tidak akan pernah saling memahami. Dan baru-baru ini saja saya sadar, bahwa itu semua adalah bagian dari perjalanannya untuk menjadi ibu.</p>
<p>Karena menjadi ibu itu tidak mudah. Ia memang bukan sekadar proses pembuahan, mengandung dan melahirkan. Anak dan keluarga bukan seperangkat alat elektronik yang memiliki petunjuk penggunaan masing-masing. Dibutuhkan kecerdasan untuk menemukan, merumuskan, bahkan perlu keberanian untuk mengganti formula yang dipakai untuk membesarkan seorang anak jika dianggap sudah tidak sesuai. Formula itu bisa berupa hukuman, bisa pula telinga dan hati yang terbuka lebar.</p>
<p>“Didiklah anakmu karena ia akan hidup pada zaman yang berbeda denganmu” kata Ali bin Abi Thalib. Nasihatnya mengisyaratkan pada para siapapun yang terlibat dalam hal pendidikan anak untuk senantiasa awas dan tanggap membaca zaman. Sesuatu yang bagus pada zaman orang tua, bisa jadi telah mengalami pergeseran dikala anak dewasa.</p>
<p>Karenanya, jika seorang ibu mempertanyakan kemampuannya menjadi ibu, karena begitu gampang kehabisan kesabaran oleh kenakalan anaknya, atau oleh permasalahan keluarga, mudah-mudahan mereka tidak putus asa, dan menyadari bahwa benturan adalah bagian dari perjalanan ‘enjadi’. Saya harap mereka tidak berkecil hati, karena dalam proses ‘menjadi’ kegagalan ataupun kesuksesan juga merupakan proses. Semoga mereka yang mendampingi Sang Ibu, -suami, anak atau siapapun- senantiasa memberinya dukungan dalam perjalanan ‘menjadi’ ibu. Karena, menjadi ibu memang tidak mudah.</p>
<p>oleh : Attin Parihatin, Ummi edisi 3/XIV/2002</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coysclub.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coysclub.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coysclub.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coysclub.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coysclub.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coysclub.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coysclub.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coysclub.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coysclub.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coysclub.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coysclub.wordpress.com&blog=1005162&post=276&subd=coysclub&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coysclub.wordpress.com/2009/11/19/menjadi-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/037d085a7bcbd81dc13ad74665ee49a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>indah&#8230;</title>
		<link>http://coysclub.wordpress.com/2009/05/09/indah/</link>
		<comments>http://coysclub.wordpress.com/2009/05/09/indah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 07:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifqi Nz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coysclub.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[palanta@net padang panjang
tadi pagi ke t4 temen di salimpaung, ada close friend yg walimahan, temen dari man dulu ampe kuliah, baru dpt kabar kalo dia walimahan hari ini tadi malem&#8230;
pas lagi makan, cerita2 ama udanya temen itu&#8230; dulu dia kerja sebagai sopir di PO. AYAH, trus skrg udah brenti. waktu ditanyain knp brenti, dia bilang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coysclub.wordpress.com&blog=1005162&post=236&subd=coysclub&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>palanta@net padang panjang<br />
tadi pagi ke t4 temen di salimpaung, ada close friend yg walimahan, temen dari man dulu ampe kuliah, baru dpt kabar kalo dia walimahan hari ini tadi malem&#8230;<br />
pas lagi makan, cerita2 ama udanya temen itu&#8230; dulu dia kerja sebagai sopir di PO. AYAH, trus skrg udah brenti. waktu ditanyain knp brenti, dia bilang ga sesuai ama prinsipnya.<br />
prinsipnya gini : walau lampu awak tarang, senter urang jan dimatian&#8230;<br />
maksudnya ? silahkan anda persepsikan sendiri&#8230;</p>
<p>abis dari walimahan, ke net lg, ambil tas, trus jalan ke padang.. nyampe padang panjang brenti dulu t4 fieta.. waktu posting ini, lagi maen di meja 1..<br />
ahahaha&#8230;<br />
jalan lagi..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coysclub.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coysclub.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coysclub.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coysclub.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coysclub.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coysclub.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coysclub.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coysclub.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coysclub.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coysclub.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coysclub.wordpress.com&blog=1005162&post=236&subd=coysclub&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coysclub.wordpress.com/2009/05/09/indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/037d085a7bcbd81dc13ad74665ee49a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Derita Mengabadikan Cinta</title>
		<link>http://coysclub.wordpress.com/2009/02/13/ketika-derita-mengabadikan-cinta/</link>
		<comments>http://coysclub.wordpress.com/2009/02/13/ketika-derita-mengabadikan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 02:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifqi Nz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coysclub.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan.…”
.
Suara pembawa acara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coysclub.wordpress.com&blog=1005162&post=147&subd=coysclub&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan.…”</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita…</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Tiga puluh tahun yang lalu …</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan “Pasha” yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. <span lang="DE">Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. <span lang="DE">Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">“Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja” tegas ayah.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati,<br />
saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan.<br />
Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan<br />
saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang<br />
cukur….tukang cukur, ya… sekali lagi tukang cukur! <span lang="DE">Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati.<br />
Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak<br />
dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa<br />
pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke<br />
berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
Dengan enteng ayah menjawab. “Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri.”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor<br />
ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab imam Hanafi.<br />
Ketika Ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.”
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu.<br />
Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan<br />
kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.<br />
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. <span lang="DE">Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.<br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">“Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!”<br />
“Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa<br />
menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil.<br />
Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.<br />
Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini,” jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja… tak lebih.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan<br />
melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? <strong>Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.<br />
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu.</strong> Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha.”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil<br />
memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak<br />
menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia<br />
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia &amp; lepas dari belenggu derita:</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Sambil menatap kaki langit</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Kukatakan kepadanya</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Bukan karna ketiadaan kata-kata</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Tapi karena kupu-kupu kelelahan</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Akan tidur di atas bibir kita</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Besok, oh cintaku… besok</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Kita akan bangun pagi sekali</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Dengan para pelaut dan perahu layar mereka</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Dan akan terbang bersama angina</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Seperti burung-burung</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. </span>Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia<br />
ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">“Gila… ide gila!!!” pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai<br />
dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar<br />
Magister dan menjawab logika yang saya tolak:</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan.<br />
Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.”
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun<br />
luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. <span lang="DE">Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">“Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…” bisiknya mesra sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. <span lang="DE">Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah<br />
memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor<br />
Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">“Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di<br />
London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.”
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London. <span lang="DE">Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar<br />
Doktor dari London. </span>Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz…”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"><span style="color:#ffffff;">.</span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="DE">Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coysclub.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coysclub.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coysclub.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coysclub.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coysclub.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coysclub.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coysclub.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coysclub.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coysclub.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coysclub.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coysclub.wordpress.com&blog=1005162&post=147&subd=coysclub&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coysclub.wordpress.com/2009/02/13/ketika-derita-mengabadikan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/037d085a7bcbd81dc13ad74665ee49a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rif</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>