Bagaimana Kita Memandang…

April 23, 2008

just like someone has said… “bukannya plagiat lho, tp nurani gw sebagai copywriter tergelitik pas baca tulisan ini”.. jadi ikutan nge-copas gitu… huehuehue

ceritanya begini..

Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta . Di sampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si Pemuda.
” Oh… Saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua” jawab ibu itu.
” Wouw….. hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak-adiknya?
” Oh ya tentu ” si Ibu bercerita : “Anak saya yang kedua seorang dokter di Malang, yang ketiga Kerja di Perkebunan di Lampung, yang keempat menjadi arsitek di Jakarta, yang kelima menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke enam menjadi Dosen di Semarang.”

“Pemuda tadi terdiam, sambil berpikir, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke enam.
“terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?”
Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab,
“anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar nak”

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di
pekerjaannya, sedangkan dia menjadi petani “?

Do you want to know the answer ???? …

Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
” Ooo …tidak… tidak begitu nak….
Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”

credit to : BF’ers DReaM MaKeR