Cita-cita : Menjadi Ibu Rumah Tangga. Kening saya berkerut. Saya amati lagi mahasiswa baru adik kelas saya itu. Ini bukan pernyataan akhwat yang secara bergurau diberi julukan WO, walimah oriented. Bahkan dari akhwat sekalipun, saya belum pernah mereka yang secara terang-terangan mencantumkan ibu rumah tangga sebagai cita-cita. Ibu rumah tangga? Padahal junior yang berdiri di hadapan saya dua tahun lalu adalah remaja delapan belas tahun dengan penampilan genereasi MTV.
“Karena menjadi ibu itu nggak mudah” itu inti jawabannya ketika saya bertanya kenapa? Saya kagum dengan keberaniannya mencantumkan menjadi ibu sebagai cita-cita. Mungkin, oleh feminis ia akan dikritik sebagai perempuan yang terjebak struktur patriarki dengan aturan baku: ranah domestik adalah milik perempuan, publik milik laki-laki. Atau sebagai perempuan yang terjebak dalam mitos dewi tolol dalam sangkar emas. Terbuai oleh romantisasi indahnya dunia domestik sebagai manipulasi agar domain publik tetap menjadi wilayah laki-laki.
Namun saya pikir, ketika seseorang menetapkan pilihannya secara sadar, sepenuhnya mendedikasikan diri pada keluarga atau berkontribusi dalam kehidupan publik, maka ia manusia merdeka. Ketika ia menempatkan menjadi ibu sebagai cita-cita, saya pikir hal itu berangkat dari pemahaman, betapa menjadi ibu tidaklah , saya pikir hal itu berangkat dari pemahaman, betapa menjadi ibu tidaklah taken for granted karena ia dilahirkan sebagai perempuan. Melaikan sebuah profesi yang harus dipandang serius.
Karena menjadi ibu -tentu juga ayah- tidak mudah. Saya yakin itu, walaupun belum mengalaminya. Menempatkan menjadi ibu sebagai cita-cita, sama halnya dengan keinginan kita untuk selalu mencapai kesempurnaan sebagai hamba Allah. Dan proses menjadi ibu -juga menjadi hamba Allah yang baik- adalah proses being, bukan becoming. Being, merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Ia tidak sama dengan cita-cita anak-anak kita untuk menjadi dokter, misalnya. Karena setelah kita dewasa, kita dapati bahwa hal itu tidak lagi cukup untuk kita. Setelah jadi dokter lalu apa?
Karena menjadi ibu tidak mudah. Saya pikir jawaban itu banyak benarnya. Sebagai anak, ibu adalah idola saya. Bukan karena ia selalu sempurna sebagai seorang ibu. Toh ia tidak selalu dalam kondisi sempurna untuk bercerita, mendengarkan ataupun mengerti anak-anaknya. Sebagai anak, saya menyaksikan pergulatan dan perubahan dalam dirinya, untuk menjadi lebih matang dari kemarin. Ia pernah tidak sabar suatu kali, tidak mengerti ataupun marah. Ada saatnya pula saya berpikir, kami tidak akan pernah saling memahami. Dan baru-baru ini saja saya sadar, bahwa itu semua adalah bagian dari perjalanannya untuk menjadi ibu.
Karena menjadi ibu itu tidak mudah. Ia memang bukan sekadar proses pembuahan, mengandung dan melahirkan. Anak dan keluarga bukan seperangkat alat elektronik yang memiliki petunjuk penggunaan masing-masing. Dibutuhkan kecerdasan untuk menemukan, merumuskan, bahkan perlu keberanian untuk mengganti formula yang dipakai untuk membesarkan seorang anak jika dianggap sudah tidak sesuai. Formula itu bisa berupa hukuman, bisa pula telinga dan hati yang terbuka lebar.
“Didiklah anakmu karena ia akan hidup pada zaman yang berbeda denganmu” kata Ali bin Abi Thalib. Nasihatnya mengisyaratkan pada para siapapun yang terlibat dalam hal pendidikan anak untuk senantiasa awas dan tanggap membaca zaman. Sesuatu yang bagus pada zaman orang tua, bisa jadi telah mengalami pergeseran dikala anak dewasa.
Karenanya, jika seorang ibu mempertanyakan kemampuannya menjadi ibu, karena begitu gampang kehabisan kesabaran oleh kenakalan anaknya, atau oleh permasalahan keluarga, mudah-mudahan mereka tidak putus asa, dan menyadari bahwa benturan adalah bagian dari perjalanan ‘enjadi’. Saya harap mereka tidak berkecil hati, karena dalam proses ‘menjadi’ kegagalan ataupun kesuksesan juga merupakan proses. Semoga mereka yang mendampingi Sang Ibu, -suami, anak atau siapapun- senantiasa memberinya dukungan dalam perjalanan ‘menjadi’ ibu. Karena, menjadi ibu memang tidak mudah.
oleh : Attin Parihatin, Ummi edisi 3/XIV/2002
Ditulis oleh Rifqi Nz
Ditulis oleh Rifqi Nz
Ditulis oleh Rifqi Nz 

Kunjungi dunia kartun SEAL Online yang penuh warna. Ditambah dengan karakter dan latar belakang 3D yang imut. Pengalaman bermainmu menjadi tak terlupakan.
Dalam petualanganmu di dunia Shiltz (nama dunia SEAL), kamu akan diberikan berbagai macam misi untuk menjaga kedamaian dunia, dimana terkadang kamu harus mengarungi masa lalu dan masa depan.
Game Online tidak akan lengkap bila tidak didukung dengan system chatting dan komunitas yang baik. Di SEAL Online, kami menyediakan berbagai fasilitas mulai dari chatting pribadi, chatting umum, bahkan sampai topik-topik khusus seperti olaharaga, komik, anime, dll. Dijamin daftar teman kamu akan semakin bertambah panjang.
Kami mengerti arti dari cinta dan kesetiaan abadi, terutama bagi mereka yang mempunyai pasangan. Bagi pemain yang setia dengan pacarnya, kami menghadiahi fungsi khusus sesuai lama kesetiaan mereka di SEAL Online.
Bosan dengan jenis bertempur yang hanya menggunakan klik pada ‘mouse’. Di SEAL Online pemain juga dapat menggunakan kombo yang hanya menggunakan tombol ‘A’, ‘S’, dan ‘D’ pada ‘Keyboard’. Dengan menguasai system kombo, pemain akan dapat mengalahkan monster yang lebih kuat darinya.
Apakah anda penyayang binatang? Di SEAL Online kami menyediakan binatang peliharaan / PET-ala-SEAL. Dimana Pet ini tidak hanya sebagai hiasan, tetapi juga dapat menambah kemampuan kamu dalam menjalani petualangan. Dan setelah besar, Pet akan berubah menjadi Guardian yang gagah yang dapat kamu kendarai untuk berpergian.
Setelah mengalahkan Bale(Monster) dan menjalankan misi, kamu dapat bersantai dengan memancing di pinggir sungai, selain itu barang yang kamu dapatkan dari memancing juga amat berguna.
